Dari cerita tentang keluargaku, dapat ditarik kesimpulan bahwa aku berasal dari lingkungan keluarga yang kekristenannya sudah berurat berakar; sehingga pastilah sangat mengejutkan ketika aku ternyata bisa meninggalkan agama Kristen. Jujur saja, aku sendiri pun sebelumnya tidak pernah bermimpi akan menjadi bebitu yakin dengan kebenaran Islam dan kemudian menjadi penganutnya. Waktu itu, kekristenanku begitu kokoh. Rasanya mustahil bisa tergoyahkan apalagi digantikan oleh paham atau agama lain.
Namun, hal yang terasa tidak mungkin itu akhirnya terjadi juga pada diriku. Hal itu membuktikan bahwa di luar diriku rupanya ada kekuatan dan kekuasaan Yang Mahabesar dan Mahakuasa, yang tidak dapat dibayangkan atau digambarkan oleh kemampuan kita yang sangat terbatas.

Awal perkenalan dengan Islam
Perkenalanku dengan Islam dimulai di SMA Negeri Bagian A di Semarang. Salah satu mata pelajaran wajid di sana adalah sejarah kebudayaan, yang mengajarkan kebudayaan Indonesia, khususnya kebudayaan Hindu, Buddha dan Islam. Buku yang dipakai (berbahasa Belanda) adalah Cultuurgeschiedenis karya Profesor Stutterheim; sedangkan pengajarnya adalah Bapak Mangunkawotjo.
Menurut sebagian teman-teman, Bp Mangunkawotjo sebenarnya penganut paham theosofie; namun cara beliau mengajar agama Islam demikian hidup dan membuatku sangat terkesan. Hasilnya, nilai tinggi dari mata pelajaran ini turut berjasa meluluskanku dari SMA Bagian A tersebut dengan nilai terbaik di Semarang (1954).
Dari SMA, aku melanjutkan pelajaran di Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN). Lagi-lagi aku bertemu dengan pelajaran agama Islam. Di sana, dosen kami untuk mata kuliah Islam adalah Bp Imron Rosyadi, SH.
Pelajaran-pelajaran yang kuterima di SMA dan ADLN itu, perlahan tapi pasti, mengubah tuntas anggapan serta pandangan saya sebelumnya tentang Islam. Seperti kebanyakan orang-orang Kristen, sebelumnya aku beranggapan bahwa orang-orang Islam itu kebanyakan tinggal di kampung-kampung. Mereka biasa memakai kain sarung, kopiah, dan tidak bersepatu. Alas kami mereka paling banter hanyalah bakiak atau sandal. Yang sudah agak tua di antara mereka, biasanya pergi ke tanah Arab untuk dijadikan haji. Mereka yang sudah bergelar haji, biasanya punya banyak isteri.
Waktu itu, kami juga mendapat masukan bahwa syarat untuk menjadi orang Islam antara lain harus disunat (dikhitan) lebih dahulu. Setelah itu, kita dilarang makan daging babi, minum bir, dan merokok. Selain itu, kita juga harus memakai kain sarung, tidak boleh mengenakan celana panjang. Kita juga harus berpuasa setiap tahun selama sebulan. Sungguh mengerikan cerita orang mengenai sunat dan puasa! Kata mereka,  seorang tukang sunat bisa saja melakukan kekeliruan, sehingga seluruh “tangkai” terpotong; dan banyak orang pun mati kelaparan karena dipaksa berpuasa walaupun badan mereka tidak kuat.
Tapi, setelah menyimak pelajaran-pelajaran agama Islam di sekolah, pandanganku tentang Islam dan para penganutnya sedikit demi sedikit berubah.

Aku di tengah para muslim
Perlahan tapi pasti, aku pun mulai menyadari bahwa Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta adalah orang-orang Islam, yang – setidak-tidaknya di depan umum – tidak pernah hanya bersarung dan bersandal. Mereka juga bukan hanya tinggal di kampung masing-masing. Mohammad Hatta malah belajar dan tinggal lama sekali (Agustus 1921-Juli 1932, red) di Eropah (Belanda, red). Mereka – Sukarno dan Hatta – juga bukan hanya berbicara dalam bahasa Jawa dan Minangkabau tapi fasih pula berbahasa Eropah (Belanda, Inggris, Prancis, Jerman).
Di atas segalanya, mereka berdua adalah proklamator kemerdekaan Indonesia, yang selanjutnya memimpin negara Republik Indonesia yang berdaulat, yang wilayahnya sangat luas, dan penduduknya sangat banyak.
Aku juga memperhatikan para pemimpin Indonesia yang lain, misalnya Mr Ahmad Subardjo, yang ketika itu menjabat Direktur ADLN, tempat aku kuliah. Kemudian Mr Sunaryo, Menteri Luar Negeri kita. Mereka semua muslim. Lalu, Jenderal Sudirman, prajurit Indonesia yang ditakuti dan disegani orang-orang Belanda penjajah itu, malahan sebelum menjadi tentara adalah guru di sebuah sekolah Islam.
Aku juga mengingat orang-orang Aceh yang dikagumi mendiang ayahku dan banyak marsose tua lain. Mereka jelas para pemeluk Islam. Kemudian, kerajaan-kerajaan seperti Mataram, Banten, Gowa, dan kerajaan-kerajaan lain yang besar pada zamannya, itu semua adalah kerajaan-kerajaan Islam. Dan, orang yang pertama kali mengangkatku  sebagai pegawai, Haji Bakri dari Pare-Pare, adalah orang Islam. Direktur kantor besar tempat pertama kali aku bekerja (Biro Devisen Perdagangan alias BDP), mendiang Dr. Sutanto, juga orang Islam. Ketika beliau menjadi pemimpin BNI 1946, pengganti beliau sebagai Kepala BDP adalah mendiang Mr. Muchtar Usman, orang Islam. Kepala BDP setelah beliau, Drs. Muljana Wiraatmadja, juga muslim. Pengganti beliau, Bp Martoyo Kunto, SH, juga muslim.
Ketika BDP diubah menjadi BLLD (Biro Lalu Lintas Devisa), pemimpinnya adalah muslim bernama Bp R. Kartadjumena, SH. Pengganti beliau, adalah muslim lain bernama Bp Rachmat Saleh, SE. BDP adalah lembaga yang punya hubungan sangat erat dengan Bank Indonesia. Ketika itu, Gubernur Bank Indonesia adalah seorang muslim yang sangat terkenal, yaitu Bp Mr Syafruddin Prawiranegara.
Aku mulai menyadari bahwa kenyataannya, ke mana pun aku bererak di Republik Indonesia ini, selama ini aku selalu bersentuhan dengan para muslim. Sejak dulu, watak mereka itu pemberani. Terbukti dengan adanya kerajaan Mataram, Aceh, Gowa, dan sebagainya. Selain berani, mereka juga pintar, sehingga bisa muncul sebagai para pemimpin.
Aku mulai berpikir bahwa – sudah barang tentu! – agama mereka, yaitu Islam, mempunyai saham dalam pembentukan watak dan kepribadian mereka, sehingga mereka bisa menjadi pahlawan pertempuran dan pemimpin negara.
Fakta lainnya, Islam menjadi agama yang dipeluk sebagian besar bangsa Indonesia. Maka, fakta-fakta itu pun mulai membuat aku terpesona. Islam – ternyata – merupakan agama yang mempunyai kekuatan hebat; yang mampu menarik pengikut terbanyak, dan mampu menciptakan pahlawan dan pemimpin yang begitu banyak. Timbul lah dalam diriku hasrat untuk mendalami agama Islam lebih lanjut.

Menguji para muslim
Tapi, bagaimanapun terpesonanya aku oleh agama Islam, mungkinkah aku melepas agama Kristen yang sudah mendarah daging dalam diriku? Mungkinkah aku melepas latar belakang suku dan keluarga yang semua beragama Kristen?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul dan mengganggu. Tapi pesona Islam juga terus menggoda. Selanjutnya, aku bukan lagi hanya tergoda, tapi malah merasa sudah terjerat. Akibatnya, keinginanku untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak tentang Islam sudah tidak bisa ditahan lagi.
Sambil mempelajari Islam melalui bacaan, aku juga mulai memerhatikan dengan seksama tingkah laku kawan-kawan dan rekan-rekanku …………